Ahok dibenci VS Ahok dicinta

Harus diakui bahwa Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok adalah salah satu kepala daerah yang fenomenal sekaligus kotroversial di Indonesia. Dia merupakan sosok pemimpin yang langka yang bisa ditemukan, ketika semaraknya kepala daerah terjerat korupsi, maka Ahok hadir secara berani untuk tampil berbeda dengan pemimpin lainnya dengan mengadakan perlawanan terhadap korupsi.

Dia berani secara terbuka untuk melawan hal-hal yang dianggap bertentangan dengan kebenaran. Tidak peduli apakah itu rakyat biasa, pengusaha, pemimpin partai, anggota DPR atau yang lainnya. Jika memang salah, maka dia berani untuk mengatakan salah, dan jika benar, maka dia berani untuk berkata benar.

Slogannya juga sangat jelas dan sarat keberanian, yaitu “taat pada konstitusi bukan konstituen, bahkan rela mati demi konstitusi”. Nada suaranya keras, spontan dan apa adanya. Bahkan setiap komentarnya selalu dijadikan pemberitaan utama.

Kepopuleran Ahok sebagai pemimpin yang muncul dari kelompok minoritas, yaitu etnis Tionghoa dan agama Kristen, disikapi banyak orang secara sinis, apatis maupun secara manis. Bagi yang sinis misalnya, Ahok disebut sebagai Cina, Kristen, kafir dan banyak bacot (mulut), tidak tahu cara berkomunikasi ala Betawi, kasar, sombong, tidak tahu sopan santun, mudah untuk mengeluarkan kata-kata toilet.

Ahok juga dianggap tidak mampu dan tidak layak menduduki jabatan Gubernur DKI yang penduduknya mayoritas muslim. Masih banyak lagi “dosa” yang bisa dideretkan mengenai kelemahan Ahok. Bahkan ada juga kelompok yang menyatakan diri komunitas “Lawan Ahok”. Kelompok ini menjadi anti tesis dari komunitas Teman Ahok.

Ahok bagi FPI dan HTI maupun kelompok Islam garis keras lainnya merupakan sosok yang harus dimusuhi oleh umat Islam. Wujud penolakan FPI atas keberadaan Ahok tersebut adalah dengan memunculkan gubernur tandingan yang dilantik oleh FPI sendiri. Namun, gubernur tandingan ini sudah “musnah” bak ditelan bumi. Konon ceritanya, gubernur tandingan Fachrurrozi Ishaq, telah bergabung dengan partai Idaman besutan Rhoma Irama.

Di balik semua yang membenci Ahok, ternyata masih banyak yang cinta pada Ahok atas kinerja dan upaya dalam mebenahi Jakarta. Misalnya, hasil survey yang dirilis Periskop Data, menunjukkan angka 48,2 persen responden puas dengan kinerja Ahok dibanding DPRD hanya 12,4 persen yang puas (tempo.com. 16/6/2015). Menurut Populi Center, mengatakan Ahok masih mengantongi dukungan elektabilitas sebanyak 49 persen dalam survei pada Februari 2016.

Statmen Ahok juga dijadikan sebagai tulisan dalam kaos, misalnya, “maling jadi pejabat sikat habis” dan “lawan korupsi, kenapa harus takut, jika hidup hanya sekali”. Ada juga solidaritas untuk Ahok yang menyebut dirinya Kompak (Komunitas Pendukung Ahok), KTP 4 (for) Ahok dan Teman Ahok.

KTP yang dikumpulkan Teman Ahok pun sudah mencapai 749.287 KTP, namun karena pengumpulan KTP ini tidak menyertakan calon Wagub, maka Teman Ahok harus melakukan verivikasi ulang sebelum diserahkan ke KPU pada Juni 2016, agar Ahok bisa maju independen. Gelombang dukungan terhadap Ahok pun membludak di 22 booth pusat belanja yang ada di seluruh Jakarta.

Tak kala seru juga jika melihat komentar-komentar atas pemberitaan Ahok di media online, komentar tersebut lebih banyak bernada positif kepada Ahok dibanding nada negatifnya. Pemberitaan tetang Ahok selalu masuk kategori terpopuler.

Ahok merupakan sosok pemimpin yang berani melawan arus mayoritas DPRD dan kebiasaan buruk para pejabat pemerintahan yang terkenal korup dan nepotisme. Dia juga berani mengambil keputusan untuk keluar dari partai yang mengusungnya saat Pilkada DKI 2012 demi mempertahankan “ideologi” dan komitmenya.

Statement paling berani yang pernah diungkapkan adalah “rela mati demi konstitusi”. Artinya dia ingin konstitusi ditegakkan bukan keinginan konstituen. Dia juga mampu menerobos batas kebekuan yang selama ini bercokol, bahwa kaum minoritas tidak bisa menjadi pemimpin di negeri ini.

Dia menjadi salah satu contoh bahwa pemimpin itu harus berdasarkan kompetensi dan kapasitas yang dimiliki, bukan berdasarkan agama minoritas atau mayoritas. Dia ingin menghadirkan cara-cara berpolitik yang bersih, jujur, adil, berlandaskan konstitusi dan tidak mempertuhankan partai. Dia memiliki ide-ide yang cerdas, segar dan inspiratif untuk mewujudkan keadilan sosial meskipun bayak perlawanan dan tantangan. Bagaimana pun, Ahok sudah menjadi sejarah atas bangsa ini. Hal ini tidak bisa dipungkiri.

Terobosan Ahok yang paling nyata dirasakan oleh warga adalah mampu membersihkan pungutan liar di lingkungan pemprov DKI Jakarta, meskipun belum seratus persen beres, namun dampaknya sudah bisa dirasakan oleh warga Jakarta. Jika dibandingkan dengan provinsi lainnya, DKI Jakarta relatif bersih dari pungutan liar dan pelayanan publiknya jauh lebih tertata. Bahkan, beberapa RT atau RW di DKI yang dahulunya sangat membenci Ahok justru berbalik mendukung kebijakan Ahok saat ini.

Masyarakat pun diberikan akses untuk mengadu secara langsung kepadanya jika ada pejabat pemprov yang melakukan kecurangan. Penggusuran Kampung Pulo, penggusuran Kalijodoh justru lebih banyak menuai pujian dari masyarakat luas, dibandingkan yang menghujatnya, meskipun masih ada kelompok-kelompok tertentu yang tidak puas dengan penggusuran karena masalah kerohiman.

Pesan yang hendak disampaikan melalui tulisan ini adalah, bagi penista Ahok, hentikanlah isu-isu yang bernuansa Suku Agama dan Ras (SARA). Indonesia adalah negara demokrasi yang mengusung ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan keadilan. Seluruh anak negeri harus memiliki kesempatan yang sama menjadi pemimpin tanpa harus memandang agama maupun etnis apapun.

Selagi masih warga negara Indonesia, memiliki kompetensi dan kapabilitas untuk memimpin harus didukung. Isu SARA yang dipakai untuk memilih pemimpin sudah usang dan layak ditinggalkan. Jika ide semacam ini terus dipelihara, maka akan menciderai konstitusi dan persatuan Indonesia dan tidak akan pernah mendapat pemimpin yang mumpuni.

Bagi para pecinta Ahok juga demikian, harus tetap proporsional untuk membela. Tidak boleh membela dengan “cinta buta” tanpa kritikan dan pengawasan, dengan anggapan bahwa Ahok memiliki kebenaran mutlak. Para pendukung Ahok juga harus berani mengkritik jika menemukan adanya kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

Harus disadari, Ahok adalah manusia biasa yang memiliki kelemahan (baca: dosa dan cela). Selagi Ahok berjalan dalam kebenaran, kejujuran, dan keadilan, maka dia tidak akan pernah ditinggalkan rakyatnya. Sebaliknya juga demikian, jika Ahok meyeleweng dari kebenaran, maka itu menjadi awal keruntuhannya sebagai pengukir sejarah sekaligus pemimpin di negeri ini. Mari mengkritik seluruh pemimpin denga cara yang proporsional, bukan berdasarkan kebencian yang “membabi buta” atau membela dengan “cinta buta”.

Itulah Ahok yang dinista dan Ahok yang dicinta. Semoga Ahok tetap berjalan dalam kebenaran dan bisa menularkan semangat melayini untuk seluruh pelosok negeri. Semoga!

TIDAK ADA KOMENTAR