PortalKataID
Berita Foto

Jangan Keliru, Begini Cara Menghitung IPL Apartemen!


JAKARTA, KOMPAS.com – Tinggal di apartemen dekat pusat kota atau tempat beraktivitas sehari-hari, merupakan pilihan paling rasional untuk saat ini. Selain praktis, tinggal aparteman juga meningkatkan waktu kebersamaan dengan keluarga.
Itulah motivasi utama kalangan urban rela tinggal di “rumah bertumpuk”. Pertimbangan utama lainnya adalah efisiensi waktu, dan biaya. 
Namun, bagi Anda yang sudah atau baru akan memutuskan tinggal di apartemen, sebaiknya memahami aturan, dan biaya-biaya yang harus dibayar. Tentu saja, apa yang anda bayarkan akan sangat terkait dan memengaruhi kenyamanan tinggal di apartemen.
Berbeda dengan rumah tapak (landed house), tinggal di apartemen pada kenyataannya jauh lebih mahal. Ini dimungkinkan karena gedung apartemen harus dikelola secara profesional oleh suatu badan yang disebut badan pengelola. Untuk menciptakan profesionalitas itu, tentu saja membutuhkan biaya besar.
Badan pengelola sendiri tugasnya adalah menjalankan operasionalisasi gedung dan menjaga ketertiban umum di lingkungan apartemen. Selain juga hal-hal umum lainnya macam memelihara fasilitas bersama, seperti jalan kompleks, taman dan peralatan vital lift, panel-panel listrik, dan saluran air bersih.
Yang sering menjadi pertanyaan adalah, darimana badan pengelola mendapatkan dana untuk membiayai perawatan dan gaji karyawan? Tak lain dan tak bukan, dana tersebut diperoleh dari Iuaran Pengelolaan Lingkungan (IPL) yang ditarik dari pemilik/penghuni apartemen secara proporsional, sesuai dengan luas unit.
Sayangnya, penentuan besaran tarif IPL ini selalu menjadi polemik antara pengurus Penghimpunan Penghuni dan Pemilik Satuan Rumah Susun (P3SRS) dengan pemilik/penghuni apartemen. Terlebih ketika terjadi gejolak ekonomi yang menyebabkan harga-harga material dan operasional gedung meningkat. 
Untuk menutupi defisit biaya perawatan gedung, tarif IPL pun mau tak mau harus disesuaikan atau dinaikkan. Tetapi kenaikan IPL tak selalu berjalan mulus. Karena ada saja pemilik/penghuni yang menolak, bahkan tidak jarang berujung dengan demonstrasi.

Penentuan tarif IPL

Bagaimana menentukan tarif IPL? Menurut Ketua Komite Budget Inner City Management (ICM), Hendra Rahardja, untuk menentukan besaran tarif IPL, P3SRS terlebih dahulu harus tahu pendapatan apa saja yang selama ini diperoleh apatemen. 
Pendapatan bisa diperoleh dari sewa ruang milik P3SRS. Misalnya ATM, sewa pancang Base Transceiver Station (BTS), atau pemasangan iklan di area komersial lingkungan apartemen.
Kemudian, P3SRS merinci biaya-biaya rutin yang dikeluarkan atau biaya operasional, muali dari biaya karyawan, umum, kantor, representasi (sumbangan), utilitas, listrik, perawatan, tenaga alih daya (outsourcing), asuransi dan lain-lain.
“Semua biaya itu dikalkulasi, termasuk pendapatan di luar IPL yang nantinya ditentukan kemudian. Pendapatan tersebut akan mengurangi biaya IPL, sehingga selisihnya itu yang akan dibebankan, dibagi rata dengan luas dari unit masing-masing. Dari hasil itulah nilai IPL didapatkan,” kata Hendra kepada Kompas.com, pekan lalu.
Senada dengan Hendra, SOP Manager ICM Hidayat menjelaskan, sebelum menetapkan tarif IPL, karakteristik gedung juga harus diperhatikan. Gedung yang memiliki banyak fasilitas, beban IPL-nya pasti lebih tinggi. Selain itu, faktor usia gedung dan luasan (jumlah) unit turut berpengaruh terhadap besar kecilnya tarif IPL.
“Biasanya, sebelum dikelola building management, pengembang yang membangun apartemen sudah menetapkan besaran IPL yang tercantum dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB), berapa per meter perseginya yang harus mereka bayar. Itulah dasar awal tarif yang dipakai oleh pengurus P3SRS,” jelas Hidayat.
Masalahnya, jika selalu terdapat kesalahan penetapan IPL oleh pengembang. Terkadang, biaya yang dibutuhkan, pada kenyataannya, jauh lebih besar, dibanding yang sudah diputuskan. Hal ini tentu saja akan memaksa P3SRS melakukan penyesuaian tarif sesuai kebutuhan riil pengelolaan. 
Jika hal itu terjadi, dapat dipastikan akan ada keluhan atau protes dari pemilik/penghuni.
Karena itu, Hidayat menyarankan agar dalam menetapkan IPL awal, pengembang harus menghitung sesuai kebutuhan riil pengelolaan. Sehingga ketika diserahkan ke P3SRS definitif, tidak menimbulkan potensi masalah.

P3SRS 

Sementara itu, pengamat rumah susun, Sujoko, menyatakan, biaya pengelolaan gedung atau IPL itu ditanggung secara proporsional oleh pemilik/penghuni unit apartemen. Dasar hukum dari penarikan IPL ini di antaranya, UU No 20 tahun 2011 tentang Rumah Susun dan Peraturan Pemerintah No 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun.
“Di situ disebutkan bahwa pembiayaan pengelolaan benda, bagian dan tanah bersama dibebankan kepada pemilik/penghuni. Jadi ini merupakan kewajiban setiap pemilik/penghuni apartemen atau rumah susun,” tegas Sujoko.
Menanggapi banyak polemik terhadap penentuan besaran tarif IPL akhir-akhir ini, Sujoko mengatakan, hal-hal yang menyangkut masalah uang, di mana saja pasti ada pro dan kontra. Apalagi IPL apartemen yang jumlahnya bisa mencapai ratusan miliar rupiah setiap bulannya.
Menurut Sujoko, dalam menetapkan tarif IPL pengurus P3SRS harus transparan kepada pemilik/penghuni dan sesuai dengan prosedur. Penetapan IPL biasanya ditetapkan oleh P3SRS yang mengacu pada anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART).
“Pengurus P3SRS punya kewenangan menetapkan tarif IPL.Tetapi jika dianggap tarif itu terlalu besar oleh sebagian penghuni. Maka mereka bisa mempertanyakannya kepada forum tertinggi yaitu rapat umum tahunan (RUTA),” tandas Sujoko.
Namun, jika masih keberatan, pemilik/penghuni apartemen disarankan untuk tetap membayarnya agar tidak terjadi pemutusan listrik, dan air oleh badan pengeelola, karena penetapan tarif IPL sudah sesuai dengan AD/ART.

Editor: FX Michael I BK
SumberKOMPAS

Related posts

Prajurit Jajaran Kolinlamil Terima Pengarahan Asintel Pangkolinlamil

FX Michael Ivan BayuK

KURSUS PENANGGULANGAN TEROR ASPEK LAUT (PTAL) KE-13 TAHUN 2015 RESMI DIBUKA

FX Michael Ivan BayuK

Dipanggil, Ahok Akan Penuhi Panggilan BPK Senin

FX Michael Ivan BayuK

Presiden RI Beri Pengarahan Rapim TNI TA. 2016

FX Michael Ivan BayuK

Ahok: Urus Teroris Saja Cuek, Gimana Kalau Ada Warga Sakit

FX Michael Ivan BayuK

Panglima TNI : Tingkatkan Semangat dan Kesiapsiagaan Operasi

FX Michael Ivan BayuK

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Translate »
Loading...

Login

Do not have an account ? Register here
X

Register

%d bloggers like this: